Sebuah Jalan, Tiga Cerita

Hanya ada sebujur jalan di Dukuh Muneng. Ia menyiku dari jalan raya Caruban-Ngawi. Ujungnya bertemu jalan raya dan ujung lainnya membentuk gang buntu karena bersambung dengan pematang sawah. Lima tahun lalu orang-orang menancapkan tonggak papan nama di ujung jalan masuk dukuh. Tulisan di papan nama itu bunyinya “Jalan Kapten Tendean”. Tidak ada yang tahu mengapa harus nama itu yang dipakai. Cuma latah daripada tak ada nama jalan.

Sejak setahun lalu jalan itu sudah diaspal. Seorang anggota dewan menepati janjinya sewaktu kampanye untuk mengaspal jalan itu. Namun kini aspalnya sudah mengelupas di sana-sini. Kerikil-kerikil dan batu koral berserakan dihempas kendaraan. Tampaknya para tukang yang kerja borongan tak membangun jalan dengan sungguh-sungguh. Atau barangkali uang proyek pembangunan jalan sudah dikutip pamong desa hingga tak cukup untuk membeli material bermutu. Tapi orang-orang tampaknya tak ambil pusing. Toh puluhan tahun sebelumnya jalan itu tak pernah diplester dan keadaan tak ada bedanya.

Dukuh Muneng punya sebuah langgar namanya Baiturrohman. Mbah Man menjadi imam langgar itu sejak puluhan tahun yang lalu. Kini, karena soal umur, ia sudah tak fasih lagi membaca bacaan sholat dan do’a-do’a. “Semilahirohmanirohim,” ucapnya melafalkan basmalah. Anak-anak kecil yang menjadi jama’ah sholat suka menahan tawa kalau mendengar bacaan do’a Mbah Man. Anak-anak itu lebih fasih melafal bacaan sholat karena ikut Taman Pendidikan Quran di kampung sebelah setiap sore. Oleh karena dianggap tak mampu lagi menjadi imam, sejak dua bulan lalu tugas Mbah Man sebagai imam langgar digantikan anak sulungnya yang bernama Sam. Mbah Man kini menjadi makmum. Sekarang setiap kali sholat ia selalu mengambil shaf paling ujung mepet tembok supaya bisa menyandarkan tubuhnya yang tak kuat diajak berdiri lama-lama.

Sam, imam baru itu sebenarnya juga tak pandai melafal bacaan sholat. Ucapan arabnya kacau di sana-sini. Maklum, Sam sebenarnya juga belum lama rajin ibadah di langgar. Sebelum-sebelumnya ia lebih rajin menunggui warung kopi miliknya yang jaraknya dengan langgar hanya hanya diselingi sebuah rumah milik Pak Jogoboyo.

Muadzin atau petugas adzan di langgar Baiturrohman namanya Ji. Ji ini anak almarhum Mat, muadzin sebelumnya. Semenjak Mat meninggal dunia karena sakit paru-paru muadzin gonta-ganti. Namun setelah Ji rajin ke langgar dan ajeg mengumandangkan adzan setiap menjelang sholat ia kini menjadi muadzin tunggal. Orang-orang menyukai suara dan cengkok Ji ketika mengumandangkan adzan. Ia juga pandai melantunkan puji-pujian yang dinyanyikannya usai adzan sambil menunggu waktu iqomat. Orang-orang bilang Ji punya suara bagus karena sejak kecil suka menyanyi lagu-lagu Rhoma Irama.

Sebenarnya Ji memang gemar mengaji sejak kecil. Ia malahan lebih pandai mengaji daripada sekolah umum. Namun beranjak remaja Ji menjadi nakal. Ia tidak lagi mau mengaji, apalagi sekolah. Ia suka keluyuran, menonton wayang, dangdut, dan layar tancap. Namun kelakuannya lambat laun berubah semenjak ayahnya meninggal. Entah kenapa ia kembali rajin ibadah.

Kini Ji selalu mengumandangkan adzan jika waktu maghrib, isya, dan shubuh sudah tiba dan Sam menjadi imamnya. Tidak ada sholat jama’ah dhuhur dan ashar di langgar Baiturrohman. Orang-orang sibuk bekerja di sawah atau sedang tidur siang. Makmum sholat jumlahnya tak banyak. Kalau ada jama’ah jumlahnya sepuluh orang itu sudah banyak. Kadang-kadang kalau hari sedang hujan Sam dan Ji sholat hanya berdua saja karena tak ada jama’ah yang datang ke langgar.

Kalau malam Jumat, usai sholat maghrib jama’ah mengadakan tahlilan. Tahlilan dipimpin oleh Min. Ia lelaki asal kampung sebelah namun beristri perempuan Dukuh Muneng. Bacaan Quran-nya bagus dan fasih. Kalau berdoa panjang-panjang. Ia memang lulus mengaji di mesjid di kampungnya. Orang-orang Dukuh Muneng pernah meminta Min menjadi imam di langgar Baiturrohman menggantikan Mbah Man namun Min enggan. Ia merasa rikuh karena bukan warga asli Dukuh Muneng. Namun untuk menghormati permintaan orang-orang, ia mau memimpin tahlilan dan menjadi imam sholat berjama’ah selama bulan puasa. Min juga bersedia memimpin amil, sebutan untuk panitia pengumpul zakat fitrah, selama bulan puasa. Min selalu khawatir orang-orang tidak berzakat sesuai aturan syariat.

*******

Di tepi jalan raya, tepat di depan sebuah gudang tembakau, letaknya di ujung rumah orang-orang Dukuh Muneng adalah rumah Yus. Rumah Yus berukuran besar. Dindingnya dicat putih dan biru. Di antara dua pohon mangga di depan rumah ada papan berwarna putih. Tulisan di papan itu: “Gereja Pantekosta Indonesia (GPI), Jemaat Ellohim”. Rumah Yus memang juga dijadikan gereja umat Nasrani. Yus adalah seorang pendeta.

Dari seluruh penduduk Dukuh Muneng, hanya Yus dan keluarganya yang beragama Nasrani, agama Yesus dari Nazaret. Umat Islam mengenalnya sebagai Isa binti Maryam.

Jemaat gereja Ellohim datang dari kampung-kampung sebelah. Setiap hari Sabtu dan Minggu sore, pelataran rumah Yus penuh sesak oleh mobil, motor, dan sepeda onthel jemaat. Deretan bangku-bangku di gereja itu penuh oleh jemaat yang beribadah. Mereka mendengarkan khotbah Yus yang berpakaian putih, mirip jubah atau toga wisudawan, tapi tidak memakai toga. Sambil memegang Alkitab, Yus memimpin ibadah. Ia laksana gembala bagi beberapa puluh orang jemaatnya.

Para jemaat selalu menyanyi lagu-lagu rohani ketika kebaktian. Suaranya terdengar sampai di luar gereja. Anak-anak kecil yang sedang bermain bola di halaman rumah Wit, tetangga rumah Yus, sering mendengar lagu-lagu rohani itu. Mereka muslim namun saking seringnya mendengar lagu-lagu rohani mereka hafal nada-nadanya. Sambil bermain bola mereka bergumam mengikuti nada-nada nyanyian rohani dari gereja.

Kalau hari natal tiba anak-anak Dukuh Muneng diundang ke Gereja sekalipun mereka bukan umat nasrani. Di gereja mereka disajikan tontonan film yang berkisah perjalanan Yesus Kristus semenjak lahir sampai wafat. Yus juga membagi-bagikan bingkisan kepada anak-anak itu. Li, satu-satunya cucu perempuan Yus diminta kakeknya membagi-bagikan bingkisan tersebut. Isi bingkisan macam-macam. Ada makanan, buku tulis, pensil, rautan, dan mainan. Anak-anak senang, namun para orang tua menaruh curiga. Jangan-jangan bingkisan itu adalah upaya Yus supaya anak-anak jadi mengenal kebaikan orang-orang Nasrani. Para orang tua khawatir anak-anaknya nanti menaruh perhatian kepada ajaran Nasrani. Yus menangkap kekhawatiran tetangga-tetangganya. Sejak saat itu tak lagi mengundang anak-anak ke gereja ketika natal namun sesekali masih member bingkisan kepada tetangga-tetangga terdekatnya.

Hubungan Yus dengan tetangganya tetap baik. Mereka selalu rukun. Yus selalu diundang ketika tetangga-tetangganya ada selamatan. Biasanya San, anak lelakinya, yang datang memenuhi undangan-undangan itu. Yus memang sudah tua.

*******

Jam satu dini hari Yem bangun tidur. Seperti hari-hari Wage sebelumnya, ia segera menanak-nasi, memasak air, memanasi sayur daun singkong dan kembang turi, dan menyiapkan perabot makan. Jam setengah empat ia mandi, sholat shubuh, kemudian berganti baju dengan mengenakan jarik dan memakai baju kebaya ala Jawa mataraman. Ia berangkat ke pasar Wage untuk berjualan nasi pecel.

Sudah puluhan tahun Yem berjualan nasi pecel di Pasar Wage, sebuah pasar yang hiruk di Dukuh Muneng. Nama Wage diambil dari salah satu nama hari dalam penanggalan Jawa: Kliwon, Legi, Paing, Pon, dan Wage. Pasar Wage buka setiap lima hari sekali.

Di pasar, Yem menempati sebidak kecil los. Ukuran los dua kali tiga meter. Cukup untuk sebuah meja menaruh dagangannya, dua buah bangku panjang untuk pembeli, dan sebuah bangku pendek untuk dia duduk melayani para pembelinya.

Yem seorang janda tua dan tinggal sendirian. Suaminya, Di, sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu karena sakit kencing batu. Anak-anak Yem jumlahnya tiga orang dan semua sudah berkeluarga.

Semenjak suaminya meninggal, Yem bekerja sendirian. Dulu suaminya ikut membantu Yem mencari daun pisang untuk pincuk nasi, memetik kembang turi, mencari kayu bakar, membuat biting, dan memikul meja kursi ke pasar. Kini Yem mengerjakan semuanya sendirian. Hari Paing ia membeli kayu bakar, belanja beras, menggiling sambal, dan menggoreng rempeyek. Hari Pon ia menyiapkan daun pisang, mencari sayuran, dan memasak lontong. Ia hanya dibantu tetangganya, seorang buruh angkut, yang ia minta membawa barang-barang dagangannya ke pasar.

Yem sudah tua dan sendirian. Usianya sudah kepala tujuh. Rambutnya memutih. Ia sering mengeluh kecapekan. Urat-urat di kedua betisnya tampak menyembul. Ia mengidap varises. Ia tidak tahu sampai kapan akan berjualan pecel. Yang ia tahu, nasi pecel dan pasar wage adalah dua hal yang menerjemahkan hidupnya selama ini.

Ya. Pasar Wage adalah terjemahan hidup beberapa orang di Dukuh Muneng. Namun selain orang-orang Dukuh Muneng, ada orang-orang yang tinggal menetap di dalam pasar sekaligus mencari nafkah. Entah dari mana asal para pendatang itu. Pamong Desa tidak pernah melakukan pendataan kepada mereka.

Entah sejak kapan mula-mula ada pendatang dan menetap di dalam pasar. Mereka tinggal di dalam bilik-bilik yang terbuat dari triplek. Luas bilik-bilik itu barangkali hanya cukup untuk diisi sepotong kasur. Di luar bilik mereka punya seperangkat meja dan bangku untuk berjualan nasi, kopi, atau teh. Kebanyakan pendatang itu adalah perempuan dan kebanyakan perempuan itu adalah pelacur. Mereka, para perempuan pendatang itu, adalah orang-orang yang menerjemahkan Pasar Wage sebagai tempat pelacuran.

Gong, lelaki gendut, rambutnya pendek kaku, kumisnya juga kaku. Di lengan kanannya ada tato bergambar setengah badan petinju Mike Tyson. Di dada kanannya ada tato gambar ular kobra. Ia punya warung kopi di muka Pasar Wage. Ia gemar mengajak pelanggan warungnya berjudi dan menyabung ayam jago. Kepada para pelanggannya, ia sering menawarkan perempuan nakal. Gong seorang mucikari.

Sudah lama Gong tinggal di Pasar Wage bersama istrinya, Ni. Dulu Ni juga seorang pelacur. Namun semenjak menikah dengan Gong ia tak melacur lagi. Kini ia memiliki anak buah beberapa perempuan yang diminta menjaga warung. Namun kalau ada lelaki hidung belang yang datang dan minta ditemani, perempuan-perempuan itu siap melayani. Mereka diajak pergi entah ke mana karena Gong dan Ni hanya punya bilik kecil dan warung kopi.

Suatu kali pernah ada pelacur dibawa seorang lelaki menuju gubuk di sawah-sawah tak jauh di belakang rumah Pendeta Yus. Anak-anak muda Dukuh Muneng sedang berkumpul malam itu. Salah seorang pemuda tengah mencari singkong yang akan ia bakar ramai-ramai bersama kawan-kawannya. Di tengah kebun singkonga ia memergoki lelaki dan pelacur itu. Segera ia panggil kawan-kawannya. Tak berapa lama kemudian para pemuda itu melempari lelaki dan pelacur dengan tanah dan batu. Keduanya lari tunggang langgang. Sejak saat itu tak ada pelacur yang berani bertingkah macam-macam di pemukiman Dukuh Muneng.

Polisi pernah beberapa kali melakukan operasi untuk menertibkan para pelacur. Tengah malam para pelacur ditangkapi, dikumpulkan, dan kemudian dicatat identitasnya. Mereka dinaikkan truk dan diantar pulang ke rumahnya masing-masing. Namun sebulan dua bulan kemudian mereka kembali lagi. Mereka tidak pernah jera. Polisi yang jera.

Nik masih ingat hari itu hari pertama masuk SMP. Hari itu guru wali kelas meminta siswa satu kelas maju memperkenalkan dirinya satu per satu. Tiba gilirannya maju, ia memperkenalkan nama dan asalnya. Begitu mengatakan nama Muneng, seisi kelas tertawa dan mengolok-olok Nik. Kata teman-temannya, desa Nik adalah tempat pelacuran, tempatnya perempuan-perempuan hina. Nik luar biasa malu dan sedih.

*******

Selepas Shubuh berjalan-jalan di trotoar di tepi jalan raya, di depan Pasar Wage, di seberang makam kampung. Truk-truk rokok Gudang Garam melaju pelan di jalan raya Caruban-Ngawi. Demikian juga bis-bis Rosalia Indah dan Mandala. Sur pulang setelah jualan rokok semalam suntuk. Mbok Ten berjalan kaki menuju pasar kampung tetangga menggendong jamu. Lik Kas berangkat ke pasar juga dengan truk penuh berisi kelapa. Rat bersepeda kumbang menggendong alat semprot pupuk menuju ke sawah Pematang Seribu. Seorang pelacur tidur tak berselimut di atas bangku di warung milik Gong.